
Setelah sambutan kepala sekolah, giliran narasumber pertama, Ibu Alfi Faridian, yang menyampaikan materinya. Ibu Alfi memaparkan tentang Capaian Pembelajaran (CP) terbaru dalam Kurikulum Merdeka. . Selain itu, Ibu Alfi menyoroti beberapa miskonsepsi yang masih sering muncul di kalangan pendidik terkait implementasi kurmer ini, misalnya anggapan bahwa setiap siswa harus mencapai standar yang sama dalam waktu yang sama, padahal Kurikulum Merdeka justru mendukung pembelajaran yang lebih fleksibel dan mendalam, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa.
Narasumber kedua, Ibu Pratiwi Samsugiyarni, kemudian melanjutkan sesi dengan membahas tentang pembuatan modul ajar berdiferensiasi. Ibu Pratiwi menjelaskan bahwa diferensiasi dalam pengajaran merupakan kunci untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa yang berbeda-beda. Ia memberikan contoh konkret bagaimana modul ajar dapat disesuaikan dengan gaya belajar siswa, dan penyediaan variasi metode pengajaran Dengan diferensiasi ini, siswa yang memiliki kemampuan dan minat yang berbeda bisa belajar dengan cara yang paling sesuai untuk mereka.
Para peserta dari SMA Islam Al-Amin terlihat sangat antusias dengan materi yang disampaikan. Mereka banyak bertanya mengenai penerapan modul ajar berdiferensiasi dan bagaimana teknologi seperti PMM, AI, dan Wardwall bisa diintegrasikan dalam pembelajaran mereka sehari-hari. Diskusi berjalan hangat, dengan banyak guru yang berbagi pengalaman tentang tantangan yang mereka hadapi di kelas dan bagaimana mereka bisa menerapkan inovasi yang baru saja dipelajari.
Acara berakhir pada pukul 12 siang dengan sesi tanya jawab yang produktif. Para peserta membawa pulang banyak wawasan baru, materi digital, serta semangat untuk mulai mengintegrasikan teknologi dalam proses pengajaran mereka. Di penghujung acara, kepala sekolah SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo mengucapkan terima kasih atas partisipasi aktif semua peserta, berharap pertemuan ini akan membuka jalan bagi peningkatan mutu pendidikan di sekolah masing-masing.

.jpeg)



